Beberapa hari terakhir wacana penghapusan striker asing di Liga 1 Indonesia terus berhembus kencang. Hal ini tentu saja bukan tanpa alasan, melihat realitas yang ada memang hampir setiap tim hanya mengandalkan pemain asing untuk mengisi pos di lini depan. Akibatnya, banyak striker lokal yang sulit berkembang karena kurang mendapatkan kesempatan bermain. Apalagi, kini banyak tim yang lebih suka menggunakan formasi 4-2-3-1 atau sejenisnya yang hanya membutuhkan satu pemain di posisi ujung tombak. Formasi 4-4-2 saat ini sudah mulai jarang digunakan. Sehingga, kebanyakan striker lokal kalah bersaing dengan striker asing yang memiliki kemampuan lebih. Striker lokal hanya akan bermain di babak kedua atau bahkan baru akan bermain ketika striker asing mengalami cedera atau mendapat hukuman akumulasi kartu.

 

Minimnya striker lokal tentu berujung pada Timnas Indonesia yang kesulitan dalam memilih seorang penyerang di lini depan. Saat ini saja, pemegang top skor di Liga 1 Indonesia dipegang oleh striker asing milik Persib Bandung, Ezechiel Ndouassel. Sementara itu, hanya nama Samsul Arif yang masih mampu menunjukkan kualitasnya sebagai seorang striker lokal. Ada juga nama Stefano Lilipaly, tetapi pemain Bali United ini adalah seorang pemain keturunan Belanda. Ditambah, Stefano Lilipaly memiliki posisi asli sebagai seorang gelandang alias bukan striker murni.

 

Wacana penghapusan striker asing memang sebenarnya ditujukan demi memberikan kesempatan bagi para striker lokal, terutama pemain muda agar bisa menjadi striker berkualitas. Kita bisa melihat saat Coach Luis Milla kebingungan dalam mencari striker untuk Timnas U-23 yang dipersiapkan dalam menghadapi Asian Games 2018. Beberapa nama sempat dicoba, mulai dari Marinus Wanewar, Ahmad Nur Hardianto, Ezra Walian, dan Rafli Mursalim. Sayangnya mereka belum mampu menunjukkan kualitas terbaiknya. Kemudian, Luis Milla mencoba memanggil penyerang naturalisasi, Ilija Spasojevic, namun juga belum mampu membuat Luis Milla puas. Akhirnya Luis Milla menjatuhkan pilihan kepada penyerang naturalisasi lain yang sebenarnya telah berumur yakni Alberto Goncalves. Beto, sapaan akrabnya, sukses menjadi tumpuan di lini depan Timnas U-23 selama Asian Games 2018 bersama Stefano Lilipaly.

 

Namun, wacana penghapusan striker asing di Liga 1 Indonesia tentu menimbulkan pro kontra. Misalnya salah satu agen pemain asing di Indonesia, Gabriel Muda Liminto yang menilai wacana tersebut bisa menjadi diskriminasi terhadap striker asing. Menurut Budi, kehadiran pemain-pemain asing tersebut tidak terlalu mengganggu karier dari para pemain lokal, termasuk di posisi striker.

“Aturannya tiga pemain asing dari mana saja dan satu pemain asal Asia. Itu tersebar, ada defender, striker, dan playmaker. Menurut saya, yang perlu disajikan (di aturan) adalah soal pembatasan posisi striker asing apakah ikut berdampak ke Timnas Indonesia apa tidak,” ujar Budi.

 

“Kehadiran mereka menambah kualitas pemain, menambah euforia, dan transfer pengetahuan ke pemain lokal,” kata agen berusia 29 tahun tersebut. Gabriel Budi memang dikenal sebagai agen pemain yang sering mendatangkan pemain-pemain asing berkualitas. Pemain-pemain tersebut seringkali mampu menjadi andalan bagi setiap tim yang mereka perkuat. Beberapa nama pemain asing yang pernah atau masih berada dalam tanggung jawabnya antara lain Marko Simic (striker Persija Jakarta, Oh in-kyun (gelandang Persib Bandung), Sylvano Comvalius (mantan striker Bali United), hingga striker Bali United, Ilija Spasojevic yang kini telah mengantongi status sebagai WNI.

 

Namun, Budi juga memahami niat dari PT LIB untuk Liga 1 Indonesia tersebut ditujukan demi memunculkan striker-striker lokal yang berkualitas.  Apapun aturan yang nanti dikeluarkan oleh PT LIB, ia berjanji akan patuh terhadap aturan tersebut.

Tinggalkan Balasan