Pasca tewasnya salah satu anggota jak mania yakni Haringga Sirla yang dikeroyok secara brutal oleh para suporter Persib Bandung yakni bobotoh, pihak PSSI langsung melakukan pembekuan terhadap kompetisi liga 1. Bukan hanya itu saja pihak PSSI juga mengadakan rapat terkait kasus pengeroyokan tersebut untuk menemukan solusinya karena bukan kali ini saja aksi pengeroyokan suporter yang berujung tewasnya suporter lain terjadi namun sudah beberapa kali selama kompetisi di Indonesia ini baik dari kompetisi liga 1 senior maupun dari liga 2 dan liga lain dibawahnya. Hal ini tentu saja menjadi pr besar bagi pihak PSSI yang merupakan induk organisasi sepak bola yang dimiliki Indonesia.

Banyak sekali dukungan dan juga masukan dari berbagai pihak baik dari masyarakat biasa atau para petinggi bola Indonesia terkait kasus ini. Mereka menuntut keadilan yang harus diberikan kepada korban dan keluarganya serta hukuman yang adil bagi para pelaku dan juga bagi klub yang menjadi korban nama dari kasus pengeroyokan ini. Klub yang menjadi korban nama pada kasus ini telah dinilai lalai oleh pihak PSSI lantaran pada saat terjadi tragedi pengeroyokan pertandingan tersebut belum dimulai dan juga masih dalam lingkungan Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Publik pun menanyakan keberadaan pihak keamanan pada laga kali ini lantaran pada saat korban selesai dikeroyok pihak keamanan baru datang untuk mengamankan jasadnya.

Atas kejadian ini pihak PSSI pun mengadakan rapat dengan komisi disiplinya pada waktu selama pembekuan liga 1 senior ini. Dan hasil rapat tersebut akhirnya mengeluarkan pihak Persib Bandung yang dikenai hukuman sangat berat atas tragedi yang terjadi tersebut. Namun selain dari pihak Persib Bandung, komisi disiplin PSSI juga melakukan sanksi terhadap para pemain dan klub lain baik di liga 1 senior maupun di liga 2 lantaran klub dan pemain lain tersebut juga diduga melakukan pelanggaran etika pada saat pertandingan.

Dari pihak Persib Rupanya dikenai hukuman paling berat diantara klub lainya meskipun pada saat tragedi tersebut pihak Persib sedang bermain dengan Persija namun Persija tak dihukum seberat Persib, mereka hanya melakukan sanksi terhadap para pemainya saja. Sedangkan dari pihak Persib komisi disiplin PSSI memberikan sanksi terhadap klub, panitia pelaksana, suporter Persib, pelaku pengeroyokan, bahkan para pemainya juga tak luput dari sanksi komisi disiplin PSSI. Dan hukuman yang paling berat yang ditimpakan kepada Persib adalah larangan bermain home di Pulau Jawa hingga akhir musim 2018 jadi mereka harus melakukan laga home di luar Jawa tepatnya di Kalimantan dan juga bagi suporter dilarang menonton hingga setengah musim 2019.

Hukuman ini pun akhirnya menimbulkan beberapa protes yang datang dari beberapa petinggi sepak bola Indonesia. Termasuk dari petinggi Persib sendiri yakni Umuh Muchtar. Umuh menilai hukuman tersebut tak adil bagi timnya dan hukuman tersebut berat sebelah lantaran pihak Persib yang paling rugi atas hukuman tersebut. Ia juga mengatakan bahwa keputusan tersebut hanya rekayasa lantaran pihak Persib dituduh melakukan aksi sweeping pada laga tersebut namun pada kenyataanya tidak. Ia bahkan mengatakan bahwa PSSI lebih baik dibubarkan saja.

Tanggapan lain juga datang ketua umum viking Persib yakni Heru Joko. Heru mengatakan bahwa keputusan ini sangat tidak bijaksana. Lantaran jika niat memberikan hukuman yang memeberi efek jera pihak PSSI seharusnya tak membuat keputusan yang berlebihan seperti itu lantaran keputusan itu juga bisa membunuh para suporter Persib lain yang tidak bersalah dan bukan tidak mungkin malah bisa menimbulkan masalah lainya.