Pada laga hari Kamis (13/09/2018) di stadion Mattoangin markas dari laskar juku eja yaitu PSM Makassar harus rela menahan malu dan menelan pil pahit lantaran harus ditahan imbang oleh tim tamu yaitu Barito Putera. Laga tersebut menyajikan skema permainan yang epic lantaran dari dua kubu klub tersebut sama-sama mendominasi pada awal pertandingan dan tercatat beberapa peluang emas juga didapat dari kedua klub namun tidak bisa dimaksimalkan dengan baik sehingga tak membuahkan gol sama sekali. Pada menit akhir pertandingan babak pertama tim PSM Makassar mulai mendomiasi pertandingan. Hal ini mungkin karena stamina dan performa dari laskar antasari yang mulai menurun. Walaupun sudah mendominasi permainan namun tetap saja laskar juku eja belum mampu mencetak sebuah gol pada babak pertama. Hingga peluit  tanda akhir dari babak pertama dibunyikan kedua tim belum mencetak gol sama sekali dan harus mau berbagi skor 0-0.

Pada saat babak kedua laskar juku eja mulai berupaya untuk mendominasi permainan. Upaya yang dilakukan antara lain dengan melakukan beberapa pergantian pemain. Upaya ini juga dinilai efektif karena laskar juku eja sempat beberapa kali memperoleh peluang emas namun belum bisa dimanfaatkan dengan baik sehingga tak satupun yang membuahkan gol. Namun siapa sangka takdir justru berkata lain. Alih-alih ingin mencetak gol laskar juku eja malah kebobolan lebih dahulu lewat serangan balik cepat yang dilakukan laskar atasari. Gol tercipta dari kaki Paulo Sitanggan yang memanfaatkan umpan dari luar kotak penalti. Gol ini membuat tim tamu mempimpin pertandingan dengan skor sementara 1-0.

Seakan-akan tak mau tunduk dari tim tamu, laskar juku eja meningkatkan skema permainanya lagi. Serangan demi serang terus dilancarkan tanpa henti guna menembus pertahanan lawan namun belum bisa mencetak sebuah angka. Pada menit akhir pertandingan performa dari laskar antasari mulai menurun dan berakibat jebolnya gawang dari Barito Putera. Gol ini tercipta dari gelandang laskar juku eja yaitu Ferdinan Sinaga. Hingga peluit panjang dibunyikan tak satupun gol tercipta lagi dari kedua kubu. Skor akhir laga ini menjadi 1-1 dan membuat tim tamu mampu mencuri skor dari laga tandang.

Hasil imbang ini menjadi tamparan keras bagi pelatih PSM yaitu Robert Rene Alberts. Bahkan pada saat usai pertandingan para suporter dari laskar juku eja meneriakan sorakan yang berisikan tuntutan kepada Robert untuk mundur dari kursi kepelatihan laskar juku eja. Hal ini ditengarai karena selama 3 tahun melatih laskar juku eja coach Robert dinilai belum bisa mencapai target dan tidak bisa menaikkan performa dari laskar juku eja. Pada saat pertandingan telah usai ribuan suporter PSM menghadang bus official dari tim laskar juku eja tersebut. Mereka meminta kejelasan terkait permainan dari laskar juku eja yang dinilai dari hari ke hari terus menurun dan tidak menunjukkan peningkatan apapun. Mereka menilai permainan dari laskar juku eja ini sudah tidak maksimal lagi karena bukan kali ini saja tim kebangganya ditahan imbang dikandang sendiri bahkan beberapa kali laskar juku eja malah kalah di kandang sendiri. Karena kemarahan dari suporter maka pihak manajemen dari PSM memfasilitasi pertemuan dengan coach Robert. Pada saat itu coach Robert menjelaskan bahwa dalam sepak bola tidak ada kepastian tentang kemenangan dan ia akan terus fokus untuk mengejar kemenagan tersebut. Pemain laskar juku eja yaitu Zulkifli Syukur juga menambahkan bahwa target kemenangan bukan milik PSM saja namun milik semua klub di liga 1.

Tinggalkan Balasan