Juergen Klopp sudah menjalani musim ketiganya di Liverpool. Memang belum ada satu trofi pun dipersembahkan oleh pelatih asal jerman ini tapi setidaknya ia dianggap sudah bisa memaksimalkan potensi anak didiknya ke level terbaik. Meskipun belum mendapatkan trofi, itu tidak berarti Klopp tidak bisa memberi hasil bagus bagi kubu The Reds. Lihat saja musim lalu, Klopp mampu membawa The Reds sebagai finalis liga Champions namun sayang di fase puncak anak asuh Klopp harus puas ada di posisi runner up kalah dari Madrid .

Datang pada pertengahan musim 2015/2016, Klopp sebenarnya sudah bisa membuat perubahan di Liverpool. Di musim perdananya sebagai pelatih, Klopp mampu membuat Liverpool mendapatkan posisi kedua di Liga Eropa dan juga di Piala Liga Inggris. Tentu bukan capaian yang main-main mengingat manajer sebelumnya tidak bisa memberikan hasil seperti yang klopp dapat.

Matheus yang merupakan legenda pemain Jerman mengatakan Klopp sejajar dengan Pep Guadiola perihal memaksimalkan pemain di atas lapangan hijau. Klopp dianggap tidak saja memotivasi para pemain dengan ucapan tapi juga dengan gerak tubuh. Tak jarang ia langsung melakukan selebrasi dengan pemain yang mencetak gol dan itu penting bagi pemain karena mereka merasa klopp bagian dari mereka.

Klopp juga selalu memeluk para pemain yang ditari keluar karena pergantian pemain. Gestur yang dilakukan Klopp bukan akting menurut Matheus, itu adalah ungkapan hati Klopp yang paling dalam. Itulah mengapa para pemain bersemangat saat bertanding di lapangan hijau. Di musim ini, Klopp bisa membuat Liverpool melangkah mulus dengan menjadi pemuncak klasemen. Menang di empat laga dari empat pertandingan yang sudah dimainkan tentu saja mengundang reaksi positif untuk anak anak Anfield. Maka tak heran Klopp digandang-gadang akan bisa membawa Liverpool menjadi juara Liga Inggris meskipun persaingan akan sangat berat.

Di musim ketig bersama Liverpool, Klopp memang memperlihatkan sebuah ambisi untuk bisa mendapatkan trofi. Tidak tanggung-tanggung empat pemain ia datangkan dengan harga mahal. Lebih dari satu triliun dibelanjakan pelatih berkacamata ini untuk mendatangkan Alisson, Fabinho, Keita dan Saqhiri. Pemain yang disebut terakhir memang didatangkan dengan gratis.

Dana yang besar untuk belanja pemain tentu saja harus sebanding dengan prestasi. Bila tidak, tentu saja Klopp bisa menjadi sasaran kritik.  Klopp sendiri sebenarnya tidak suka berbelanja banyak untuk mendatangkan pemain namun kebijakannya itu membuat Liverpool tidak bisa bersaing dengan para rival.  Itulah mengapa di musim ini, Klopp yang tida biasa bisa kita lihat. Banyak sekali uang yang dihabiskan untuk memperkuat tim agar bisa menjadi lebih kompetitif.

Musim Liga Inggris baru saja dimulai. Tentu saja masih terlalu dini untuk memuji pencapaian Klopp. Hanya dengan sederet Trofi saja yang bisa membuat Klopp dianggap sebagai manajer hebat. Menang di BPL dan menjuarai liga Inggris adalah apa yang harus dicapai di musim ini. Klopp sendiri yakin sekali ia bisa mendapatkan apa yang diimpikan yaitu membuat Liverpool kembali diperhitungkan di Liga Inggris dan juga Champions.

Kedatangan kiper bagus sekelas Alisson dan juga pemain tengah yang sudah lama diincar seperti keita dan Fabinho tentu saja akan menambah kedalaman skuad Liverpool. Itu artinya bila ada pemain inti yang cedera, Klopp masih bisa mengeluarkan pemain yang sama hebatnya. Hal ini ternyata tidak terjadi di musim lalu. Klopp tetap tidak bisa memainkan pemain bagus bila banyak pemain yang cedera.  Namun musim ini tentu saja berbeda, Klopp punya kesempatan untuk bisa bersaing dengan para rival untuk jadi yang terbaik.