Desas desus wacana penghapusan striker asing untuk kompetisi Liga 1 Indonesia semakin kencang. Hal ini dikaitkan dengan minimnya stok striker lokal untuk mengisi lini depan Timnas Indonesia. Sejauh ini, belum ada nama yang mampu melanjutkan tongkat estafet striker haus gol di lini depan Timnas Indonesia. Sebelumnya, ada nama-nama seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Budi Sudarsono, Ilham Jaya Kesuma, Bambang Pamungkas, dan Boaz Solossa.

Praktis saat ini hanya ada nama Samsul Arif yang tetap mampu menunjukkan tajinya di tengah persaingan striker di Liga 1 Indonesia. Striker Barito Putera tersebut mampu masuk ke dalam 10 besar daftar top skor Liga 1 yang didominasi pemain asing. Samsul telah mencetak 10 gol di Liga 1 2018. Selain itu, ada nama pemain keturunan Belanda, Stefano Lilipaly yang juga telah menciptakan 10 gol bagi Bali United. Namun, Lilipaly sejatinya bukanlah seorang striker murni karena memiliki posisi asli sebagai seorang gelandang.

Bahkan pelatih Timnas Indonesia, Luis Milla, juga mengeluhkan minimnya stok striker lokal guna mengisi lini depan Timnas. Saat persiapan Asian Games, ia berkali-kali mencoba beberapa nama seperti Ezra Walian, Marinus Wanewar, Ahmad Nur Hardianto, hingga pemain naturalisasi, Ilija Spasojevic. Sayangnya, nama-nama tersebut belum mampu membuat Luis Milla jatuh hati. Apalagi, dalam beberapa laga uji coba yang dimainkan Timnas, skuad Luis Milla memang seret di lini depan. Beberapa gol yang diciptakan oleh Timnas justru banyak berasal dari lini kedua. Beruntung saat persiapan akhir Asian Games, muncul nama striker naturalisasi asal Brazil yakni Alberto Goncalves yang mampu menjadi ujung tombak Pasukan Garuda. Hal inilah yang kemudian melahirkan wacana penghapusan striker asing di kompetisi Liga 1 Indonesia 2019 mendatang. Wacana tersebut dimaksudkan agar klub-klub bisa memaksimalkan striker lokal yang ada, sehingga dapat lahir striker-striker lokal yang berkualitas dan siap menjadi andalan di lini depan Timnas Indonesia. Namun, wacana tersebut menuai pro dan kontra dari legenda sepak bola Indonesia hingga pemain lokal yang masih aktif bermain. Misalnya menurut Zaenal Arif yang memberikan dukungan terhadap wacana tersebut.

“Kalau demi kebaikan sepak bola nasional yang sekarang digalakan, kalau untuk membangkitkan striker lokal yang selama ini tidak muncul, saya mendukung,” kata Zaenal Arif. Ia juga berharap regulasi tersebut betul-betul bisa membuat striker lokal yang selama ini belum mendapat kesempatan bisa memberikan kemampuan terbaiknya. Hal senada juga disampaikan oleh legenda hidup Persebaya Surabaya, Bejo Sugiantoro.

“Kalau federasi yang buat aturan, mau tidak mau kita harus ikuti dan harus ditaati semua klub, karena tujuan kita Timnas Indonesia yang kekurangan striker,” ujar Bejo. Ia juga membandingkan bahwa striker asing memiliki kemampuan yang sedikit berada di atas kemampuan striker lokal. Menurutnya, striker asing lebih bisa memanfaatkan peluang, sedangkan striker lokal terlalu banyak berpikir bila berada di depan gawang. Sementara itu, hal mengejutkan justru dilontarkan oleh striker lokal yang saat ini masih aktif bermain bersama Barito Putera, Samsul Arif. Striker yang telah mencetak 10 gol di Liga 1 Indonesia 2018 ini menilai penghapusan striker lokal bukan  solusi yang arif dan bijaksana. Apalagi, selama ini banyak striker asing yang juga memberikan banyak hal positif kepada sepak bola Indonesia. Misalnya pengalaman yang mereka bagi kepada para pemain lokal. Menurutnya, minimnya striker lokal adalah karena kebijakan pelatih yang masih ragu memberikan kepercayaan kepada pemain lokal.

“Ada baiknya, semua pelatih di Liga 1 ini memberikan kepercayaan di lini depan juga kepada penyerang lokal, tidak melulu kepada striker impor. Ini lebih kepada kebijakan di masing-masing pelatih,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan